Hubungan Yang Dikenan Allah
Yang bisa saya lakukan hanyalah
membaca Alkitab atau mendengar siaran rohani Kristen secara sembunyi-sembunyi.
Sampai anak-anak kami beranjak dewasa dan sudah terbiasa berhijab, suatu hari
suami saya memergoki saya membaca Alkitab. Puji Tuhan, ia tidak marah. Ia
justru bertanya kepada saya apakah saya sangat menderita karena selama kami
menikah saya tidak bisa beribadah. Hari itu juga ia mengizinkan saya untuk ke
gereja. Saya sangat tersentuh ketika mendengar firman Tuhan yang lama sudah
tidak saya dengar, tetapi saya juga sedih karena suami dan anak-anak saya tidak
mau menerima Yesus.
Ibu di atas
setidaknya beruntung karena pada akhirnya ia masih memiliki kesempatan untuk
beribadah. Tetapi, jangan menjadikan contoh ini sebagai alasan bahwa kita bisa
bebas berpasangan dengan orang-orang yang tidak percaya, atau alasan-alasan
lain seperti ingin memenangkan pasangan untuk Tuhan. Ada banyak kesaksian lain
dengan hasil akhir yang bahkan lebih buruk. Intinya, jika kita lebih
mendahulukan kesukaan, kecintaan, manusia daripada Tuhan, maka itulah awal dari
segala kesulitan dan kepahitan. Buktinya, ibu di atas harus berdoa dan membaca
Alkitab sembunyi-sembunyi selama bertahun-tahun.
Sesungguhnya,
dalam pandangan Allah, manusia digolongkan dalam dua kelompok, yaitu mereka
yang ada di dalam Kristus dan mereka yang ada di luar Kristus. Karena itu,
orang yang secara sukarela dekat atau terlalu intim dengan orang tidak percaya
umumnya akan merusak hubungan mereka dengan Kristus. Hubungan kita dengan
orang-orang tidak percaya hanya boleh sejauh yang diperlukan atau untuk
menunjukkan jalan keselamatan Kristus. Ingat…jangan main api kalau tidak ingin
terbakar.
"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan
orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran
dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"

0 komentar:
Posting Komentar