Kehinaan Yang Mulia
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:9-11)
Natal identik dengan kemeriahan dan
keindahan. Pusat perbelanjaan, tempat penginapan, gedung pertemuan, dan gereja
dihias indah. Acara Natal dirancang dan dipertontonkan secara kreatif dan
menarik, bahkan juga megah. Namun, peristiwa seputar kelahiran Yesus sebenarnya
penuh dengan kesengsaraan. Juga kehinaan yang memalukan.
Natal didahului oleh kehamilan Maria
yang berisiko mempermalukannya. Nyaris saja Maria diceraikan tunangannya,
Yusuf. Padahal kandungannya berasal dari Roh Kudus. Ketika dilahirkan, ia
dibaringkan di palungan, sebuah tempat makan ternak. Tanda itulah yang
diberikan oleh malaikat yang memuliakan Allah kepada para gembala (Luk.2:12). Padahal, Yesus adalah Firman, yaitu Allah yang Mahatinggi (Yoh.1:1). Dia merelakan diri lahir sebagai hamba dalam keadaan yang benar-benar
terbatas dan miskin. Sesaat setelah Dia disembah oleh para Majus, Dia harus
dibawa lari oleh orangtuanya untuk menghindari upaya pembunuhan Herodes.
Padahal, bukankah Dia Raja di atas segala raja yang Mahakuasa?
Rasul Paulus
menjawab paradoks ini. Yesus meninggalkan kemuliaan-Nya sebagai Allah dan
merendahkan diri-Nya. Ini semua dijalani-Nya karena ketaatan-Nya kepada Allah.
Oleh pengurbanan-Nya itulah, Yesus mendapatkan kemuliaan tertinggi.
Seharusnyalah kesederhanaan dan kerendahan hati ini yang menginspirasi kita
menyambut Natal. Kemuliaan Yesus terletak pada kerelaan-Nya menyetarakan diri
dengan kita dan menanggung kesengsaraan kita.
KEMULIAAN KRISTUS TERLETAK
PADA KERENDAHAN HATI-NYA.
KETAATAN-NYA KEPADA BAPA
MERUPAKAN KEMULIAAN TERTINGGI.
Sumber : http://www.renunganharian.net/

0 komentar:
Posting Komentar